Christmas eve on the road

Sungguh tak pernah terbayang sebelumnya aku akan melalui malam natal 2008 di jalan Tol Cikampek… Semua bermula dari rencana pulang kampung yang tidak jelas, salah satunya akibat terpikat rencana natalan Glow tanggal 24. Awalnya aku ingin pulang tanggal 19, tapi Tuhan rupanya luar biasa baik, mengijinkanku untuk natalan bersama Glow dulu, karena kemudian ternyata ada workshop yang harus kuikuti di Bandung sampai tanggal 20, yang meninggalkan banyak PR untuk diselesaikan sehingga aku masih harus ngantor sampai tanggal 22. Begitulah, karena cari tiket di high season sudah pasti susah, akhirnya aku terima ajakan seorang teman untuk ke Semarang naik mobil setelah ibadah malam natal dengan harapan akan menikmati serunya perjalanan panjang bersama teman-teman lama.

Dan benar, tanggal 24 Desember 2008, jam 10 malam, begitu selesai ibadah malam natal Glow di JCC, aku berlari terseok-seok karena tas besar dan sepatu hak tinggi menyeberangi jembatan penyeberangan di depan JCC. Aku berjanji menunggu temanku di halte seberang supaya mereka tidak repot. Sebenarnya mereka pasti mau saja menjemput di JCC, namun karena aku begitu Jawa yang penuh dengan segala ewuh pekewuh, maka aku memilih untuk menyeberang. Ehehehe- namanya juga numpang!

And the journey begin……

Part I
Di jalan tol Cikampek

Mulai dari depan JCC, arus kendaraan di jalan tol dalam kota sudah tersendat… Macet, macet… liburan kali ini benar-benar panjang, sehingga semua orang Jakarta rupanya tidak rela untuk hanya tinggal di rumah. Belum apa-apa sudah shock, “sampai Semarang jam berapa????”

Kemacetan di jalan tol dalam kota rupanya belum seberapa dibanding dengan kemacetan di jalan tol Cikampek yang sedemikian dahsyat parahnya. Alhasil, kami baru bisa mencapai pom bensin km 57 di mana kami janji untuk bertemu rombongan teman kami yang lain supaya bisa berkonvoi pada jam 2 pagi!!! Empat jam dari depan JCC sampai km 57, what a waste!!!!

Setelah menghibur diri dengan makanan dan kopi alakadarnya, kami melanjutkan perjalanan. Kami sempat sedikit lega karena mobil yang kami tumpangi bisa melaju dengan sedikit kencang, namun tidak cukup lama, karena beberapa saat dari pom bensin itu, tiba-tiba arus kendaraan terhenti. Kami luar biasa panik, karena arus kendaraan benar-benar terhenti. Yang terbersit dalam benak kami adalah…. ada kecelakaan di depan sana……

Ternyata kami sangat salah! Semua kemacetan bodoh yang harus dialami oleh semua pengguna jalan tol Cikampek dini hari itu adalah karena bottle neck di pintu tol! Sama kejadiannya dengan beberapa bulan lalu ketika aku dan teman-teman pulang dari Bandung ke Jakarta. Waktu itu kami sudah terjebak kemacetan di Pasteur, jauh sebelum pintu tol yang ternyata disebabkan oleh hal yang sama: mengantri bayar tol! Malam natal itu, pengelola jalan tol Cikampek sudah berusaha mengurangi kemacetan yang terjadi, mereka membuka lebih banyak pintu tol dari arah Jakarta dibanding yang dari arah Cikampek, namun rupanya upaya antisipasi telah terlambat, arus dari Jakarta malam itu demikian luar biasa padat. Yah, begitulah, si petugas pintu tol harus menerima tiket dari masing-masing pengemudi, menerima uang tunai yang dibayarkan, mencari tahu berapa besar pengemudi harus membayar, serta memberikan bukti bayar dan uang kembalian bilamana perlu. Untuk satu mobil, sebenarnya serangkaian proses tersebut tidak terlalu lama, hanya kurang dari 1 menit. Namun karena arus demikian padat, banyak kendaraan harus berhenti dan menunggu. Sungguh tidak efisien… mengesalkan!

Mengalami kenyataan kemacetan bodoh di ruas jalan tol Cikampek ini membuat anganku melayang pada sekitar 2 tahun lalu, ketika aku berkesempatan untuk menonton tayangan iklan T&T Docomo Jepang. Mereka menampilkan impian mereka pada sebuah film imajinasi mengenai Jepang di masa depan. Dalam film itu digambarkan segala sesuatu aktifitas manusia yang serba otomatis. Untuk kasus akses jalan tol ini, terbayang akan sangat nyaman apabila pihak pengelola jalan tol mengharuskan setiap pengemudi memiliki kartu isi ulang otomatis. Di pintu masuk, pengemudi tinggal tap saja kartu yang telah berisi sejumlah nilai uang itu. Kemudian sang mesin operator akan mencatatkan di pintu masuk mana mobil tersebut memasuki ruas jalan tol. Di pintu keluar, kembali pengemudi men-tap kartu tersebut dan kemudian sang mesin operator akan membaca berapa nilai yang harus dibayar, sekaligus mengurangi nilai uang kartu tersebut dengan jumlah yang harus dibayarkan. Apabila nilai uang di dalam kartu telah habis, maka pemilik kartu tinggal melakukan isi ulang di tempat-tempat di luar jalan tol seperti mengisi ulang pulsa telepon genggam. Otomatis, praktis, instan!

Aku pikir, dengan pesatnya perkembangan teknologi seperti sekarang, angan-angan itu pastilah sangat mudah diwujudkan. Seorang teman yang baru saja pulang dari Singapore mengatakan bahwa di Negara tersebut, bahkan di dalam mobil telah dipasang chip sehingga pengemudi pun tidak perlu melakukan apa pun. Semua mobil tinggal melaju saja di jalan tol, semuanya telah serba otomatis. Kemacetan bodoh yang tidak perlu sama sekali tidak harus terjadi.

Part II
Di jalur Pantura sebelum matahari terbit

Lepas dari gerbang tol, kami disambut oleh kemacetan lain di jalur Sadang-Pantura. Ruas jalan raya ini memang sempit, memang sebuah bottle neck. Namun lumayan, laju kendaraan tidak separah pada saat mengantri bayar tol seperti sebelumnya. Jam 3.30 pagi, kami mulai melaju normal di jalur Pantura, sambil berkhayal bisa tiba di Semarang jam 6.00. What a dream!

Bukan aku yang mengemudi di pagi buta itu. Aku hanya menemani temanku yang mengemudi supaya dia bisa bertahan menepis kantuk. Dua orang temanku yang lain pulas tertidur supaya siap menggantikan kami nantinya. Dan sepanjang perjalanan di pagi buta itu, hatiku teriris-iris tersayat sembilu. Betapa tidak, di pagi buta, yang bahkan adzan subuh belum dikumandangkan, banyak anak negeri yang telah memulai aktivitasnya. Orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pasar peteng: para pedagang, supir truk dan para tenaga angkutnya, tukang sayur keliling, serta para tukang ojek, entah sudah mulai jam berapa mereka bekerja.

Waktu itu belum jam 4 pagi! Aku menyaksikan pemandangan tersebut karena aku memilih untuk melakukan perjalanan malam hari dengan mobil. Lain kali, tentu saja aku bisa memilih untuk tidak mengulangi kesalahan pulang kampung naik mobil, tetapi orang-orang itu…. mereka harus terus melakukannya setiap hari untuk bisa tetap bertahan hidup!

Jam 4.15, pagi masih benar-benar buta, masih di daerah Cikampek, aku melihat seorang pemulung lengkap dengan karung besar butut yang masih kosong mulai mengais sampah di tepi jalan. Oh Tuhan, perlu sepagi itu kah dia bekerja? Aku meradang membayangkan kemungkinan bahwa pemulung tersebut sama sekali tidak punya uang untuk makan pagi, sehingga dia harus sudah bisa mengumpulkan rongsokan yang dia bisa jual untuk membeli makan pagi bagi dia dan keluarganya.

Betapa sering kita mendengar bahwa orang Indonesia pemalas, bangsa ini bobrok karena tidak bekerja keras. Ah, tidak!!! Para pedagang itu, para supir itu, para tukang ojek itu, para kuli itu, para pemulung itu…. mereka bekerja keras!!!! Bahkan di jam-jam seharusnya manusia tidur supaya metabolisme tubuh terjadi dengan sempurna, di jam-jam ketika para eksekutif muda Jakarta bahkan belum selesai dugem di akhir pekan, mereka harus bekerja. Hatiku ngilu, sesak oleh sejuta penyesalan betapa sering kali aku mengeluh akan pekerjaan yang kerapkali membuat aku pulang larut malam, yang padahal apabila dibandingkan dengan apa yang harus dilakukan orang-orang pada dini hari ini sangat jauh lebih nyaman. Dini hari itu aku bersyukur atas semua yang Tuhan beri untukku…..

Part III
Lubang-lubang jalan aspal

Akhirnya matahari mulai menampakkan diri, ketika kami masih di daerah Indramayu. Ketika aku masih bekerja pada sebuah proyek di Subang dulu, perjalanan mobil dengan arus lalu lintas lancar Pamanukan-Semarang membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam perjalanan. Katakanlah Indramayu-Semarang akan membutuhkan waktu 5 jam perjalanan, maka aku baru akan sampai Semarang sekitar jam 11 pagi. Arrrgh, tanggal 25 Desember 2008 ini, aku benar-benar tidak ke gereja di hari natal, ibadah hanya sekali di hari istimewa ini: jam 8.00 pagi! Arrrrgh!

Prediksi jam 11 bisa sampai di Semarang hanya tinggal prediksi: manusia berencana, arus lalu lintas yang menentukan! Ternyata banyak sekali lubang di jalur Pantura sepanjang Indramayu-Cirebon. Selain itu, di beberpa tempat, sedang dilakukan perbaikan jalan dan dengan teganya beberapa lajur di beberapa ruas ditutup, sehingga di ruas-ruas tersebut, mobil hanya bisa lewat satu persatu. Alhasil, kami harus melewati pagi yang seharusnya indah itu dengan muka terlipat-lipat. Macet lagi….. macet lagi…..!

Berbagai upaya kami lakukan untuk menghibur diri, mulai dari bercerita heboh, mengenang masa-masa kuliah kami di Solo dulu, memutar lagu-lagu kenangan seputar masa itu, sampai tebak syair lagu. Seru sih, tapi tetap saja, kemacetan pagi itu sangat panjang, sampai kami mati gaya, lapar dan BT. Ujung-ujungnya kami terdiam, meratapi nasib dan mengutuki berbagai hal yang bisa dikutuki.

Aku bertanya-tanya bagaimana pemerintah daerah sama sekali tidak punya antisipasi untuk libur panjang ini. Tanggal-tanggal merah di kalender untuk masing-masing tahun sudah diresmikan jauh-jauh hari oleh Kementrian Sekertariat Negara, yang pastinya sudah terdistribusi ke masing-masing kantor pemerintah daerah baik propinsi maupun kabupaten/kota. Dari data itu, seharusnya segala sesuatu menyangkut tanggal merah bisa diantisipasi. Selain melakukan perbaikan prasarana sebelum musim libur, pemerintah daerah juga bisa memasarkan objek-objek wisata di daerahnya sehingga pada saat libur, banyak turis domestik boleh singgah dan menambah PAD mereka. Tapi sayang, kenyataannya, pagi ini, 25 Desember 2008 dengan berderet tanggal merah setelahnya yang tentu saja membuat jengah orang untuk hanya tinggal di rumah, jalur Pantura justru sedang diperbaiki.

Akhirnya, jam 10 kami keluar dari Jawa Barat, dan jam 10.30 baru kami menemukan sebuah warung di Brebes untuk sarapan. Untung saja masakannya enak, jadi bisa memompa kembali semangat kami untuk meneruskan perjalanan yang masih sangat panjang…..

Tepat jam 3 sore kami masuk Semarang. Ibadah natal di hari-H natal benar-benar tinggal angan. Waktu tempuh Jakarta-Semarang yang normalnya 8 jam, kami tempuh dalam 16 jam untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Aku benar-benar letih, padahal aku masih harus melanjutkan perjalanan ke Purwodadi. Dua orang temanku masih harus melanjutkan perjalanan ke Bantul, lebih dari 100 km ke arah selatan dari Semarang, sedangkan aku 64 km ke arah timur Semarang. Aku berharap aku bisa naik travel yang bisa mengantarku dengan nyaman langsung ke rumah. Sayangnya, aku terlambat 45 menit, travel telah berangkat jam 3 sore, sehingga aku harus naik bis umum Semarang-Purwodadi tanpa AC yang berhenti di setiap sudut, berdebu, karatan, bopeng-bopeng dan yang semua supirnya sepertinya adalah para pembalap tak kesampaian karena selalu ugal-ugalan dalam membawa bis. Terpaksa…..

Aku tidak tahu persis berapa ongkos bis ini sekarang, tapi aku yakin tidak lebih dari 15 ribu. Maka aku sodorkan selembar 20 ribuan. Sang kondektur mengembalikan 9 ribu, semuanya ribuan, yang semuanya kucel, ciri khas uang kertas di kampung. Hipotesaku bahwa uang kertas cantik hanya ada di Jakarta semakin terbukti, 9 lembar uang ribuan dari kondektur bis ini benar-benar kusam, lemas dan bau!

Aku sudah tidak mampu menahan kantuk setelah semalaman tidak memejamkan mata sama sekali. Begitu transaksi dengan kondektur selesai, aku terlelap kecapaian. Kalau di musim lebaran ada aksi kejahatan pembiusan di mana pelaku memberikan minuman yang telah dibubuhi obat bius kepada korban supaya korban lelap sehingga pelaku bisa menjarahnya, sore itu aku benar-benar pulas tanpa bius, padahal jalur Semarang-Purwodadi seperti laut, jalannya berombak penuh lubang dan tidak rata. Namun Aku benar-benar pulas! Kalau ada orang mau iseng memindahkan tasku jinjingku, bahkan merogoh-rogoh tas tangan untuk mengambil HP atau dompetku aku tak akan sadar.

Aku terbangun ketika kurasakan bis berhenti total dan bertanya-tanya ada apa. Ternyata sedang diberlakukan sistem buka-tutup jalan karena ada perbaikan. Lagi, aku terjebak dalam kemacetan! Tragis, sungguh tragis…….!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: